Where’s tempat sampah?

Belajar itu bisa dari siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Termasuk belajar parenting dan dari strangers pula.

Hari ini saya berangkat ke Depok lagi. Saya sengaja naik kereta dari Stasiun Jakarta Kota, biar dapat duduk maksudnya. Setelah menunggu kereta tujuan Bogor selama 45 menit (iya lama banget, ya ampun harus banyakin stok sabar) akhirnya kereta datang juga. Tapi karena penuh, sayapun memilih turun kereta lagi, dan naik kereta jurusan Bogor keberangkatan berikutnya supaya bisa duduk. Barang bawaan saya banyak sekali, persis seperti orang yang sedang mudik.

Tidak lama setelah saya duduk, datang sekeluarga indo-blasteran. 3 orang dewasa (perempuan semua) dan 3 orang anak-anak. Masing-masing mereka memegang minuman dari toko donat kesayangan (mungkin) hampir semua orang.

Saat minuman salah satu diantara mereka habis, sang mama meminta anak laki-laki tertua -yang meskipun anak tertua usianya masih seusia playgroup atau anak kelas 1 SD- mereka supaya bersedia menjadi volunteer untuk mencari tempat sampah. Sang mama sedang sibuk menyusui adiknya yang paling kecil.

“Can you please help me?”

“For what?”

“Put this (ngasih gelas kopi yang sudah kosong) in tempat sampah. You can ask her, where’s the tempat sampah

Anak laki-laki itu lalu lari ke petugas kebersihan kereta. Petugas bilang bahwa di dalam kereta tidak ada tempat sampah dan dia harus turun untuk membuang sampah. Kemudian anak ini turun, dan sampah berhasil dibuang.

Ketika dia kembali ke tempat duduk, gelas kopi milik neneknya juga kosong. Dia secara mandiri menawarkan diri untuk membuang sampah lagi.

Setelah membuang sampah di tempat sampah. Bercerita pada mama bagaimana dia berhasil menemukan tempat sampah.

Saya seketika langsung membandingkan dengan ibu-ibu lain yang kerap saya temui yang langsung membuang sampah sembarangan. Mungkin saya kurang beruntung masa-masa itu, menemui ibu-ibu yang kurang memberi contoh yang baik, bahkan untuk anaknya sendiri.

Semoga, suatu hari nanti, saya di masa depan tidaklah demikian. Saya tipikal orang yang lebih baik menyimpan sampah untuk dibuang nanti ketika sudah menemukan tempat sampah. Saya tidak terbiasa membuang sampah sembarangan. Rasanya malu sama diri sendiri.

Teruntuk aku di masa depan,

Semoga kebiasaan ini bisa dijaga sampai nanti dewasa. Kemudian dengan bahagia kamu turunkan ke anak-anakmu, dan orang-orang terdekatmu. Tegurlah terus dirimu sendiri. Selamat belajar jadi calon orang tua yang berperilaku baik dan tidak merugikan orang lain.

Volunteering Bersama STC, Cozora, dan Teman-teman Fasilkom UI

mui 270 (268671x3dd8b6).png

16 Juni lalu saya ditawari untuk ikut terlibat menjadi salah satu fasilitator di acara live streaming Parenting Ramadan: “Menjadi Orang Tua Cerdas dalam Menghindarkan Anak dari Kecanduan Games dan Pornografi di Internet Menggunakan Ponsel Cerdas” bersama NGO Save the Children (STC), Cozora, dan beberapa teman Fasilkom UI. Acara ini dilaksanakan di SDN Marunda 02, dan 12 sekolah dampingan STC akan live streaming melalui Cozora. Tugas saya? Sesimpel memastikan acara live streaming berlangsung dengan lancar bersama kurang lebih 11 fasilitator lainnya (satu sekolah, satu fasilitator).

IMG-20160616-WA0008

Sebelumnya saya sempat tidak nyaman karena saya adalah satu-satunya orang dari luar (ibarat kata outsider, bukan anak Fasilkom) hehe. Di samping mendambah pengalaman baru dan teman baru, motivasi saya untuk ikut kegiatan ini adalah hal ini jauh lebih baik dan membuat saya berguna dibandingkan jika saya hanya berdiam diri di kosan atau di rumah hahaha.

Sebagai seorang introvert tulen, jaman dahulu saya memang mengalami kesulitan jika berada di tempat yang benar-benar baru, saya adalah seorang yang pendiam. Setidaknya sampai sebelum saya mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia (K2N UI). Saya mengakui (bahkan dibanyak tempat saya sering bercerita) bahwa K2N adalah pengalaman hidup yang mengubah diri saya dan membuat saya banyak belajar. Ditempatkan di tempat yang asing selama 33 hari, bertemu orang baru, berinteraksi dengan orang yang sebelumnya tidak saya kenal sama sekali. Namun, biar bagaimanapun saya diharuskan berhubungan baik dengan mereka semua dan mampu mengindahkan petuah-petuah kearifan lokal tanpa membuat saya menjadi kehilangan jati diri dan nilai-nilai baik yang sebelumnya sudah tertanam di diri saya. Saya belajar untuk lebih cepat beradaptasi dan membuka diri.

Sekarang, saya menjadi lebih mudah beradaptasi dan membuka diri. Setidaknya, lebih mudah untuk blending in. Jika berada di tengah-tengah interaksi bersama orang yang lebih pendiam dari saya, maka saya akan sedikit lebih mengambil peran aktif dan membuka topik pembicaraan, jika saya berada di tengah-tengah interaksi bersama orang yang begitu aktif, maka saya akan mengambil peran pasif dan menjadi sedikit pendiam. Makin hari sikap-sikap INFJ makin nampak di diri saya.

INFJ personality type is very rare, making up less than one percent of the population, but they nonetheless leave their mark on the world. As members of the Diplomat Role group, INFJs have an inborn sense of idealism and morality, but what sets them apart is that they are not idle dreamers, but people capable of taking concrete steps to realize their goals and make a lasting positive impact.

INFJs are one of the hardest of all types to type. The reason for this is because of their ability to blend in with the environment they are in at any given time. INFJs have a tendency to balance out interactions such that if the person they are talking to is too active, they will take a passive role. If the person they are talking to is too passive, they will take the active role. Like the tides they constantly shift.

INFJ Personality

Kembali ke kegiatan volunteering, 1 hari sebelum acara berlangsung atau tanggal 17 Juni, kami semua melakukan testing menggunakan Cozora, mendengar pengumuman teknis acara, dan memastikan bahwa setiap komponen laptop masing-masing yang akan digunakan berada dalam kondisi prima. Saat testing, ketika melakukan video call, beberapa mas-mas (pihak cozora dan anak Fasilkom) yang juga sedang melakukan video call tampak kaget melihat muka saya. Saya sempat berpikir, “duh mereka kok gitu sih? apa ketauan kalo aku belum mandi. tapi kan aku udah cuci muka dan pakai baby cream huhu mukaku juga ga kumel.” hahaha either saya terlalu kumal atau saya terlalu cantik meskipun belum mandi #plak.

Kemudian, esoknya saya berkumpul di stasiun UI. Di sana ada Rauhil dan Meisza (Mei yang ngajak saya untuk gabung di kegiatan ini). Sampai di Stasiun Manggarai dan basecamp STC Alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan meskipun semua orang yang saya temui adalah orang yang baru saya kenal, kecuali Mei. Di mobil menuju SD Kampung Sawah saya berbincang bersama teman-teman, topik obrolan yang saya pilih adalah topik yang pasti dialami generasi 90an semasa SD sehingga tidak sulit untuk mendapatkan mood yang bagus.

Sesampainya di lokasi ternyata SD Kampung Sawah tempat saya bertugas masih kosong dan tidak ada siapapun (kemudian terjadilah drama, sedikit emosi, dll. tapi Alhamdulillah dapat teratasi). Saat pertama kali mendapati sekolah saya kosong, saya berbincang bersama Falah yang SDnya juga berada di Kampung Sawah dan hanya berjarak kurang lebih 30 meter. Alhasil saya mondar mandir dari SD saya ke SDnya Falah. Iya, melelahkan hahaha. Tapi banyak hal lucu yang terjadi sepanjang saya bolak balik setiap 15 menit sekali itu. Mulai dari banjir-banjiran, lupa jalan (maklum kemampuan spasial saya rendah), sampai freeze karena takut diseruduk kambing hahaha. Kemudian saya kembali ke SD Kampung Sawah, menyiapkan acara, mengatasi masalah, dan Alhamdulillah acara tetap berlangsung.

Berikut isi singkat materi yang diberikan dan dapat dilihat di twitter STC:

Berdasar penelitian, anak laki-laki dan mereka yang tinggal di kota besar lebih mudah mengalami kecanduan pornografi dan games. Rasa ingin tahu anak harus dapat difasilitasi secara sehat oleh orangtua sehingga mereka tidak mencari tahu dari sumber yang salah. Anak yang kecanduan pornografi sering merasa bingung karena mereka ingin berhenti tapi kesulitan. Hukuman membuat anak merasa malu dan menjauh. Terima kondisi anak saat ini dan bantu mereka untuk merasa aman dengan kehadiran kita sehingga kita dapat membantunya. Tentang kecanduan game online, ingat usia anak adalah usia bermain. Orangtua belajarlah membuat aturan main bersama anak. Pendidikan seksual pada anak sesuai tahapannya menjadi penting untuk dikomunikasikan orangtua kepada anak untuk mengurangi bahaya pornografi. Dampingi penggunaan smartphone oleh anak, filter konten yang tidak sesuai untuk anak menggunakan software khusus.

Saya bersyukur dapat bertemu dengan teman-teman baru yang baik hatinya. Terima kasih untuk drama dan chaos satu harinya haha. Kemudian di grup semua orang bahagia dan berharap supaya silaturrahim diantara kami tetap terjalin. Saya senang. Meskipun bagi seorang introvert tulen berinteraksi dengan orang lain itu menguras energi, tapi hal tersebut bukan jadi penghalang untuk saya. Bahagia karena mampu membuat diri ini bermanfaat bagi orang lain jauh lebih penting. Ada rasa syukur di sana. Saya bersyukur karena saya masih diberi kesempatan untuk membantu orang lain.

Tambahan:

Kajian singkat tentang bahaya pornografi oleh Ustadz Nouman Ali Khan bisa dilihat di sini.

 

 

Ramadhan 1-5

ramadan1-5.png

Orang yang merindu, Asma binti Abu Bakar, dan rasa cinta yang berbalas.

Berkumpul bersama dengan orang-orang yang selalu mengingatkanmu akan Tuhan selalu bisa membantu menghadirkan ketenangan jiwa.

Setiap bulan Ramadhan, Masjid UI selalu rutin mengadakan serangkaian acara yang bermanfaat (sebut saja Pesiar Masjid UI), mulai dari kajian harian yang temanya berbeda-beda, pesantren anak dan remaja, sampai mukhayyam Qur’an. Masjid UI adalah satu-satunya tempat di UI yang tidak pernah gagal membuat saya jatuh cinta dengan segala suasananya. Terlebih saat Ramadhan.

Hari itu, saya hadir di salah satu kajian kemuslimahan, temanya meneladani Asma’ binti Abu Bakar. Semua orang pasti tahu cerita yang paling terkenal tentang beliau radiallahuanha yang dijuluki sebagai Dzatun Nithaqain karena menyobek selendangnya (dalam sumber lain membagi dua ikat pinggangnya) untuk digunakan sebagai pengikat perbekalan Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan Abu Bakar ra. Selain tentang Dzatun Nithaqain, sore itu ustadzah juga bercerita tentang banyak hal, mulai dari adab-adab suami-istri bagaimana menghadapi satu sama lain ketika sedang ditimpa masalah atau dirundung cemburu, menjadi ibu, sampai menjadi wanita yang dermawan.

Perempuan itu, ketika sedang punya masalah, dia bakal uring-uringan di awal. Cerita panjang lebar, nangislah, atau cerita panjang lebar sambil nangis hahaha. Tapi disamping itu semua sebenarnya mereka hanya perlu satu hal: didengarkan. Udah itu aja, sesimpel itu. Mereka bisa kok menyelesaikan semua permasalahannya, tapi untuk di awal ketika masalah itu datang mereka pasti akan curhat, ga jarang ya sambil uring-uringan. Ga perlu ditanya yang macem-macem. Cukup dengan didengerin aja.

Beda halnya dengan laki-laki, ketika sedang punya masalah mereka bakal diam, mikirin jalan keluarnya biar ini masalah selesai secepat mungkin. Jadi buat ibu-ibu, bukannya si bapak gamau cerita, dia cuma sedang berusaha menyelesaikan masalahnya aja. Mereka tipikal yang senang cerita di akhir, menunjukkan harga dirinya sebagai laki-laki, menunjukkan bahwa sesulit apapun masalahnya mereka mampu mengatasi. Jadi, jangan keburu diomel-omelin karena ga mau cerita, mereka belum cerita aja, bukan ga mau.

Kutipan di atas (secara garis besar) termasuk sedikit bagian dari banyak hal yang disampaikan ustadzah. Saya dan Risa hanya tersenyum pandang-pandangan kira-kira bilang gini, “Lucu amat, kita mah mana tau, punya suami aja belum”.

Cerita berlanjut ke masa dimana Asma binti Abu Bakar baru saja melahirkan dan membawa Abdullah bin Zubair ke hadapan Rasulullah.

Di dalam Sahih Bukhari diterangkan bahwa Asma binti Abu Bakar yang baru saja melahirkan membawa anaknya ke hadapan Rasulullah صلى الله عليه و سلم. Beliau صلى الله عليه و سلم, kemudian mentahnik Abdullah (mengunyahkan kurma dan memasukkan ludahnya ke dalam mulut Abdullah bin Zubair kemudian beliau mendoakannya).

Asma binti Abu Bakar juga merupakan pribadi yang dermawan.

Aku tidak pernah menemukan perempuan yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma meskipun gaya kedermawanannya berbeda. Aisyah membiarkan hartanya terkumpul dan ketika dirasa cukup banyak ia membagikan semuanya. Sedangkan Asma jika memiliki sesuatu, dia tidak pernah menyimpannya sampai besok. -Ibnu Zubair

Pembahasan mengenai Asma binti Abu Bakar masih berlanjut sampai pada kisah ketika Abdullah bin Zubair meminta masukan kepada ibundanya ketika akan menghadapi Al-Hajjaj dan pada akhirnya menempuh syahid ditangan seorang yang kasar. Beberapa waktu setelah kematian anaknya, Asma binti Abu Bakar pun wafat.

Kajian selesai sekitar pukul setengah 6 sore. Kemudian, saya dan teman-teman (yang bertemu tanpa janjian terlebih dahulu) pindah ke selasar masjid menunggu waktu berbuka puasa. Saya menyadari saya dan mungkin teman-teman yang lain adalah orang-orang yang merindukan kedatangan bulan Ramadhan sebelum ia hadir. Melakukan countdown sebelum ia hadir. Kini, saya sedang menemui bulan Ramadhan yang saya idam-idamkan. Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan untuk beribadah. Tapi apakah ibadah saya sudah maksimal? Saya masih harus berusaha keras untuk memperbaiki diri yang compang-camping di sana-sini. Pak Banu (dalam ceramah kemarin malam saat tarawih) bilang, “Ramadhan itu ibarat pertandingan marathon, meskipun harus sprint di akhir, tapi larinya juga harus dimaintain dari awal. Intinya harus lebih baik dari hari ke hari”. Kira-kira gitu, detail ucapannya saya ga begitu ingat haha.

Di samping semua itu, membatalkan puasa di Masjid UI selalu menyenangkan. Saya selalu merasa seperti sedang berada di tengah-tengah acara buka puasa bersama. Suasananya menghangatkan, bahkan ga jarang lebih hangat dari di rumah hehe. Hari ke-3 puasa, saya berkenalan dengan teman seangkatan tapi beda jurusan yang saat itu sedang hamil. Jadilah lingkaran kami hari itu membahas tentang bagaimana si Mbak menghadapi kehamilan sambil berpuasa dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar kehamilan Mbaknya. Kemudian di hari ke-4 saya masih bertemu dengan Mbaknya, ditambah setelah selesai tilawah dan turun dari lantai 2 masjid saya dicegat anak laki-laki sekitar umur 4-5 tahun. Saya kaget karena dikira ada apa, eh kemudian dia nyerocos cerita banyak hal. Saya cuma bisa ketawa hahaha. Kemudian saya tanya, “Mamanya mana?”, dia nunjuk ke arah mamanya sambil bilang “tu umi tu..”, kemudian saya antar ke mamanya sambil dia cerita sepanjang jalan menuju selasar masjid. Iya, dedeknya lucu banget!

Allah Maha Baik, itu sudah pasti. Dan sejak hari pertama sampai kelima di bulan Ramadhan, saya merasa begitu dicintai Allah setelah beberapa waktu lalu saya mendapat kado ulang tahun terburuk dan hari-hari yang saya jalani diliputi oleh kekecewaan. Saya malu betapa kadar keimanan saya benar-benar sedang terpuruk, karena satu hal yang mengecewakan saya menjadi kurang bersyukur untuk banyak hal yang lain. Astaghfirullah. Kemudian saya mendekat kembali. Sampai pada akhirnya saya merasakan kembali kehangatan ukhuwah. Saya juga kembali tahu bahwa Allah tidak pernah pergi, hanya saya yang sedikit menjauh.

Ketika merasakan kehangatan Masjid UI, saya merasakan rasa cinta yang berbalas.

Ketika merasakan kehangatan Masjid UI, saya merasa begitu dicintaiNya.

 

Perpisahan Rumah Belajar BEM UI

happy pills rumbel ui (1).png

Terima kasih pada kalian yang sampai hari ini masih mau bergerak di bidang sosial, pengabdian pada masyarakat.

Bagi saya sendiri ada sebuah pengingat yang membuat saya sampai hari ini masih bergerak di dunia anak-anak, masih berkutat di kegiatan pengabdian masyarakat. Kita jauh dari segala ketenaran, jabatan, dan puji sanjung orang lain. Namun, apa yang kita lakukan hari ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat pada diri mereka yang kita bantu, tapi pada diri kita sendiri karena ketika kita mengajar, disaat yang sama kita juga sedang belajar tentang banyak hal. Segala yang kita lakukan hari ini juga diharapkan tidak hanya memberikan kebaikan di dunia tapi juga menjadi cadangan amal kebaikan kelak di akhirat.

-Perpisahan Rumbel BEM UI-

Terima kasih untuk rekan-rekan kakak guru dan adik-adik yang sudah jadi teman pelarian saya selama ini. Terima kasih selalu memberikan keceriaan dan kebahagiaan setiap harinya. Terima kasih karena telah menghibur saya dari kado ulang tahun terburuk sepanjang saya hidup di dunia ini. Terima kasih banyak my happy pills! 🙂

Celebrate Earth Hour 2016

earth hour

Hari ini, 19 Maret 2016 pukul 20.30 – 21.30, merupakan perayaan Earth Hour. Video keren mengenai Earth Hour dapat dilihat di sini.

Ulasan pada postingan kali ini disadur dari web Earth Hour. Pada bagian FAQ disebutkan bahwa Earth Hour merupakan kampanye inisiasi publik yang menyatukan masyarakat dari seluruh dunia untuk merayakan komitmen gaya hidup hemat energi dengan cara mematikan lampu dan alat-alat elektronik yang sedang tidak dipakai selama 1 jam. Earth Hour bertujuan untuk mendorong masing-masing individu (siapapun itu) untuk menjadi bagian dari perubahan untuk masa depan dunia yang lebih baik. Dimulai dengan langkah awal semudah mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak terpakai sebagai komitmen hemat energi untuk Bumi.

Beberapa pihak mungkin menganggap Earth Hour sebagai sebuah selebrasi semu atau hanya sebagai momentum untuk menunjukkan pada dunia, pada orang lain, tentang perilaku hemat energi yang telah dilakukan. Bagi saya, biarlah niat masing-masing orang hanya diketahui oleh orang tersebut dan Tuhannya. Setidaknya, upaya penghematan energi tersebut sedikit banyak patut diapresiasi. Bayangkan jika setiap orang/keluarga di satu rumah mematikan setidaknya satu buah lampu, dan hal itu dilakukan oleh semua orang di RT tersebut, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kotamadya, Provinsi, Pulau, bahkan Negara. Bayangkan betapa besar penghematan energi yang telah dilakukan. Dan semua itu tidak bisa terwujud tanpa partisipasi masing-masing individu, tanpa partisipasimu.

Semoga Earth Hour mampu menjadi langkah awal penghematan energi dan pencegahan perubahan iklim di masa sekarang dan masa mendatang.

Selamat mematikan lampu dan alat-alat elektronik yang tidak dipakai!

Sebab masa depan dimulai hari ini. Masa depan dimulai dari diri kita semua. 🙂

 

Sebotol Hujan untuk Sapardi

sebotol hujan

Entah ini kali keberapa saya memposting ulang tulisan Joko Pinurbo yang terbit di harian Kompas tanggal 7 Juni 2015 lalu. Beberapa orang mungkin bosan. Namun, saya menyukai cerita ini tanpa alasan. Hanya suka. Untuk postingan kesekian kali ini, saya menyertakan sedikit kutipan dalam bentuk gambar seperti yang dapat dilihat di atas. Kutipan yang begitu erat dengan kehidupan warga Jakarta. (p.s. saya menambahkan tulisan “Jakarta Macet” di dalam kutipan tersebut)

Sebelumnya, saya pertama kali mengetahui tulisan ini melalui tumblr Muhammad Akhyar, salah satu senior di kampus.

Selamat menikmati cerita di bawah ini..


Cerita pendek ini adalah karya Joko Pinurbo. Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Juni 2015, di halaman 27. Meskipun bulan Maret sudah lewat, tetapi bolehlah ini saya sebut sebagai hadiah ulang tahun Jokpin kepada SDD. Hadiah ulang tahun yang manis tentu saja. Semanis karya-karya mereka.

Saya jatuh cinta pada puisi gara-gara pada suatu malam, sebelum tidur, membaca seuntai kata dalam sebuah sajak Sapardi Djoko Damono: “masih terdengar sampai di sini dukaMu abadi”. Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMA dan belum punya cita-cita.

Kata-kata itu terus menggema dalam kepala saya dan membuat saya semakin suka bersendiri bersama puisi. Sempat terbetik keinginan untuk ikut-ikutan menjadi penyair, tapi menurut sahabat dekat saya, kepala saya kurang abnormal untuk mendukung keinginan saya. “Lebih baik jadi teman penyair saja,” ujarnya dan saya mengiyakannya.

Saya gemar mengoleksi buku puisi. Bila ada buku puisi yang hilang, saya akan mencarinya lagi di toko buku sampai ketemu. Pernah seorang teman meminjam buku puisi yang baru saya beli dan belum sempat saya buka. Diam-diam buku puisi itu ia berikan kepada pacarnya sebagai hadiah ulang tahun. Kepada banyak orang, teman saya itu sering mengungkapkan rasa bangganya karena berkat hadiah buku puisi darinyalah pacarnya tumbuh menjadi seorang pengusaha kata yang sukses dan kaya.

Saya sendiri, sekian tahun setelah malam yang diguncang puisi itu, sudah menjadi seorang karyawan yang mapan di sebuah perusahaan di Jakarta dan saya tetap belum mengerti apa sebenarnya cita-cita saya. Kecintaan saya terhadap puisi masih terpelihara dengan baik. Di tengah kesibukan saya yang tiada habisnya, saya masih bisa mencuri waktu untuk menghadiri berbagai acara pembacaan puisi, minta tanda tangan dan berfoto bersama penyair-penyair kesayangan saya. Kadang saya membantu penyair-penyair dari daerah mencari tempat untuk sekadar numpang tidur dan mandi.

Ada satu impian lama yang ingin segera saya wujudkan: berfoto bersama Sapardi dan minta tanda tangannya. Sebenarnya saya pernah punya kesempatan bagus untuk berkenalan dengannya. Dalam sebuah acara pesta puisi Sapardi lewat persis di depan saya. Ia mengenakan kaos oblong putih bertuliskan “Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma”. Keren sekali. Sayang, dalam sekejap ia sudah diserbu oleh para penggemarnya dan saya tidak kebagian waktu. Selain itu, saya masih ragu untuk mendekat dan berhadapan dengannya. Saya takut ditanya, “Anda siapa ya?” Dan saya bukan siapa-siapa.

Malam itu, sepulang dari lembur di kantor, saya sempatkan berbicara dengan diri saya sendiri. Dalam naungan hangat kopi, saya membaca tulisan Seno Gumira Ajidarma: “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Asu! Kepala saya langsung menggigil. Saya memerlukan miras (minuman waras) atau obat penenang untuk menghadapi bayangan kengerian menjadi tua di Jakarta. Saat itu juga saya mengontak teman saya, Subagus, yang kenal baik dengan Sapardi. Saya minta tolong Subagus untuk mencarikan kesempatan bertemu dengan Sapardi dan Subagus menyanggupi.

Pada hari yang telah disepakati oleh Subagus dan Sapardi, hujan mengantar saya ke rumah penyair kurus itu. Saya lihat Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul-mukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak ingin mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya membayangkan ia sedang tersihir oleh hubungan gaib antara tanah dan hujan. Tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, saya balik badan dan pulang.

Dalam perjalanan pulang saya menemukan sebuah amplop berisi sepotong senja tergeletak di dekat tiang listrik. Pastilah itu sepotong senja yang dikirim Seno untuk seseorang yang sangat merindukannya. Burung yang diminta untuk mengantarkannya ke tujuan agaknya kemalaman, kemudian menjatuhkannya begitu saja di tengah kemacetan jalan. Saya ambil amplop itu, saya selipkan di saku baju. Sesampai saya di rumah, saku baju saya belepotan oleh cairan berwarna kuning kemerah-merahan. Senja yang luntur. Senja orang-orang Jakarta. “Itu bukan senjaku,” kata Seno yang saat itu ternyata sedang tidak berada di dunia nyata.

Saya ceritakan kepada Subagus perihal kedatangan saya ke rumah Sapardi seraya minta tolong lagi dicarikan kesempatan kedua untuk berjumpa dengannya dan Subagus menyanggupi. Tidak lupa saya berpesan, “Cari tahu jam yang paling tepat untuk bertemu beliau ya, Su.” Memperhatikan gaya bicara Subagus yang terkesan kurang serius, diam-diam saya mencium ada sesuatu yang tidak beres. Namun saya tidak mau berprasangka.

Gelap baru saja datang ketika saya tiba di tempat kediaman Sapardi. Rumahnya kelihatan sepi dan gelap. Saya ketuk-ketuk pintunya dengan sopan. Setelah diketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Tanpa ba-bi-bu ia melepaskan kata-kata: “Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.” Pintu segera ditutup. Saya terperangah dan terpana, lalu balik badan dan pulang.

Dua kali gagal tidak membuat saya menyerah dan kehilangan akal. Tanpa sepengetahuan Subagus, saya mempersiapkan kesempatan ketiga. Untuk usaha ketiga ini, saya akan datang menjumpai Sapardi tanpa janji dan pemberitahuan terlebih dulu. Saya akan memilih sebuah hari yang istimewa. Saya akan menjumpainya dengan cara yang jitu, yang akan membuatnya tidak bisa menghindari saya.

Saya siapkan semua buku kumpulan puisi Sapardi yang saya punya untuk saya mintakan tanda tangan penyairnya. Saya siapkan pula sebuah bingkisan sederhana sebagai tanda terima kasih saya karena sajak-sajaknya telah berhasil menjebloskan saya ke dunia kata-kata yang mengacak-acak ruang dan waktu. Saya merasa sudah siap mental untuk menemuinya lagi. Saya tidak tahu apakah dia juga siap mental.

Dan saat itu pun tiba. Saya datang ke rumahnya malam hari. Saya ketuk-ketuk pintu rumahnya dengan lembut. Setelah saya ketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Saya langsung menembaknya: “Tuan Tuhan, bukan? Tunggu di luar, saya sedang berdoa sebentar.”

Ia tertawa tergelak-gelak dengan nada suara yang tak terlukiskan indahnya. Ia mempersilakan saya masuk, lalu membimbing saya menuju halaman belakang di mana terdapat sebuah kolam kecil yang jernih airnya. Kami duduk di tepi kolam. Kami bercermin pada kolam. Melalui air kolam saya dapat melihat dengan jelas sosok penyair hujan itu: di dalam tubuhnya yang tampak ringkih terdapat daya yang lebih.

Sapardi mengenakan sarung dan kaos oblong putih bertuliskan “Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi”. Keren sekali. Rupanya dia habis nonton film “Filosofi Kopi”. Dan ia menghidangkan kopi seraya berkata, “Seno dan Subagus juga barusan ngopi-ngopi sini.” Kopi saya terima dengan takzim. Saya dan kopi tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih haus. Kopi dan saya tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih pahit.

Saya buka tas gendong saya, saya keluarkan sejumlah buku puisi Sapardi untuk ditandatangani oleh penyairnya. Setelah itu kami berfoto berdua. Sah. Sempurna.

Hari itu Sapardi genap berusia 75 tahun. Saya ambil sebuah bingkisan dari dalam tas. Saya ulurkan padanya sebuah botol besar berisi hujan bercampur senja. Ia mengucapkan terima kasih. Ia tempelkan botol itu di telinganya. Ia berbinar-binar mendengarkan suara hujan di dalam botol. Hujan yang hangat dan jingga oleh senja.

Ia bangkit berdiri. Dikocok-kocoknya botol hujan itu berulang kali. Tutup botol tiba-tiba terlepas dan menyemburlah air berwarna jingga. Menyembur tinggi ke udara. Saya masih mendongak takjub ketika semburan air berwarna jingga sudah lenyap tak berbekas. Sapardi menepuk punggung saya. “Lihat!” katanya sambil jari tangannya menunjuk ke arah kolam.

Saya lihat di atas kolam sudah ada sekuntum bunga berwarna jingga. Saya tidak tahu bunga apa namanya. Cahaya bulan memenuhi kolam, membuat bunga jingga itu tampak kian menyala. Kami terdiam beberapa lama. Hening malam membekukan bahasa. Dengan suara pelan dan dalam Sapardi berkata, “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.”

YouthDev Summit 2016

SDGs

Tanggal 20 Februari lalu, saya mengikuti acara YouthDev Summit 2016. Acara tersebut diadakan di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). YoutDev Summit digadang-gadang sebagai jawaban dari pertanyaan “Bagaimana pemuda atau organisasi pemuda mampu berdampak positif bagi masyarakat? Bagaimana jika dampak positif tersebut didukung dan disinergikan dengan pemerintah dan sektor swasta?”. YouthDev Summit kemarin diharapkan mampu menjadi forum untuk mendukung pemuda supaya memiliki peran penting dalam pembangunan di Indonesia.

YouthDev Summit kemarin mengusung tema besar Sustainable Development Goals (SDGs). Apasih SDGs itu? Kenapa program tersebut penting? Apakah Indonesia turut berperan dalam pencapaian tujuan jangka panjang tersebut?

Jujur, sebelum datang ke acara YouthDev Summit kemarin saya sama sekali ga ada ide apa itu SDGs. Hahaha. Setelah mencari tahu (of course, I googled! haha) akhirnya saya punya pengetahuan baru meskipun ga banyak-banyak amat. SDGs digadang-gadang oleh UN atau biasa kita sebut PBB sebagai tujuan jangka panjang bersama yang diharapkan terwujud dan sukses pencapaiannya di tahun 2030 mendatang. SDGs memiliki 17 fokus tujuan seperti yang tertera pada gambar di atas. Beberapa diantaranya:

  1. Menghapus kemiskinan dalam segala bentuknya di manapun.
  2. Mengakhiri kelaparan, mencapai keamanan pangan dan perbaikan gizi, dan memajukan pertanian berkelanjutan.
  3. Memastikan hidup yang sehat dan memajukan kesejahteraan bagi semua orang di semua usia.
  4. Memastikan kualitas pendidikan yang inklusif dan adil serta mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup bagi semua.
  5. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan.
  6. Memastikan ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi bagi yang berkelanjutan bagi semua.
  7. Memastikan akses ke energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua.

Well, di samping itu semua, rating acara kemarin 6.5/10. Untuk peserta, acara dibagi menjadi 2 sesi. NGO exhibition dan conference. Menurut saya, NGO exhibitionnya terlalu lama karena peserta dihimbau hadir pukul 8 pagi dan acara sesi tersebut sampai pukul 12 siang. Peserta hanya melihat stand NGO dan mendengarkan perwakilan NGO berbicara. Terlalu membosankan dan membuang-buang waktu. Di sesi tersebut hiburan saya hanya ada 1 yaitu membatik.

Di sesi kedua, saya tidak mengikuti acara sampai selesai dikarenakan ada urusan lain. Saya hanya mendengar pembicara dari Ralali.com, Gerakan Mari Berbagi, dan Kitabisa.com. Perbincangan kami dengan Gerakan Mari Berbagi cukup menarik karena mereka mengangkat isu tentang kerusuhan antar suku di Kalimantan dengan imigran Madura. Selain itu perbincangan kami dengan perwakilan Kitabisa.com juga menarik. Beberapa anak UI mungkin familiar dengan mukanya (Iqbal di dunia per-tumblr-an lebih dikenal sebagai academicus), dan lebih familiar lagi dengan platform penggalangan dananya yang diusung. Bahkan, beberapa pengumpulan dana untuk berbagai isu di kampus tidak jarang melalui kitabisa.com.

Kembali ke SDGs, setelah mengetahui sedikit apa itu SDGs pertanyaan selanjutnya yang datang adalah apa pentingnya program tersebut dan apakah Indonesia berperan dalam pencapaian tersebut. Ya, Indonesia berperan penting dan program tersebut jelas sedikit banyak berpengaruh terhadap perkembangan negeri ini. Tidak dapat dipungkiri, beberapa tujuan di SDGs juga sudah diusung oleh pemerintah. Diharapkan dengan adanya SDGs, yang tentu membuat semua pihak fokus dengan pencapaian jangka panjangnya tersebut, pemerintah dan semua pihak sadar akan betapa pentingnya beberapa poin di SDGs untuk segera diwujudkan di Indonesia (terutama mengenai kemiskinan, sanitasi, kesehatan, pendidikan, dan energi terbarukan).

Pada akhirnya, sebuah tujuan besar jangka panjang akan lebih mudah diawasi dan dijaga supaya semua kerjanya keep in track jika kita disiplin menjalani. Tujan besar tidak lepas dari pencapaian-pencapaian jangka pendek yang juga tidak bisa dianggap sebelah mata.

Semoga negeri ini mampu mencapai kata sejahtera-nya segera! 🙂

IMG_20160221_162408