Where’s tempat sampah?

Belajar itu bisa dari siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Termasuk belajar parenting dan dari strangers pula.

Hari ini saya berangkat ke Depok lagi. Saya sengaja naik kereta dari Stasiun Jakarta Kota, biar dapat duduk maksudnya. Setelah menunggu kereta tujuan Bogor selama 45 menit (iya lama banget, ya ampun harus banyakin stok sabar) akhirnya kereta datang juga. Tapi karena penuh, sayapun memilih turun kereta lagi, dan naik kereta jurusan Bogor keberangkatan berikutnya supaya bisa duduk. Barang bawaan saya banyak sekali, persis seperti orang yang sedang mudik.

Tidak lama setelah saya duduk, datang sekeluarga indo-blasteran. 3 orang dewasa (perempuan semua) dan 3 orang anak-anak. Masing-masing mereka memegang minuman dari toko donat kesayangan (mungkin) hampir semua orang.

Saat minuman salah satu diantara mereka habis, sang mama meminta anak laki-laki tertua -yang meskipun anak tertua usianya masih seusia playgroup atau anak kelas 1 SD- mereka supaya bersedia menjadi volunteer untuk mencari tempat sampah. Sang mama sedang sibuk menyusui adiknya yang paling kecil.

“Can you please help me?”

“For what?”

“Put this (ngasih gelas kopi yang sudah kosong) in tempat sampah. You can ask her, where’s the tempat sampah

Anak laki-laki itu lalu lari ke petugas kebersihan kereta. Petugas bilang bahwa di dalam kereta tidak ada tempat sampah dan dia harus turun untuk membuang sampah. Kemudian anak ini turun, dan sampah berhasil dibuang.

Ketika dia kembali ke tempat duduk, gelas kopi milik neneknya juga kosong. Dia secara mandiri menawarkan diri untuk membuang sampah lagi.

Setelah membuang sampah di tempat sampah. Bercerita pada mama bagaimana dia berhasil menemukan tempat sampah.

Saya seketika langsung membandingkan dengan ibu-ibu lain yang kerap saya temui yang langsung membuang sampah sembarangan. Mungkin saya kurang beruntung masa-masa itu, menemui ibu-ibu yang kurang memberi contoh yang baik, bahkan untuk anaknya sendiri.

Semoga, suatu hari nanti, saya di masa depan tidaklah demikian. Saya tipikal orang yang lebih baik menyimpan sampah untuk dibuang nanti ketika sudah menemukan tempat sampah. Saya tidak terbiasa membuang sampah sembarangan. Rasanya malu sama diri sendiri.

Teruntuk aku di masa depan,

Semoga kebiasaan ini bisa dijaga sampai nanti dewasa. Kemudian dengan bahagia kamu turunkan ke anak-anakmu, dan orang-orang terdekatmu. Tegurlah terus dirimu sendiri. Selamat belajar jadi calon orang tua yang berperilaku baik dan tidak merugikan orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s