Volunteering Bersama STC, Cozora, dan Teman-teman Fasilkom UI

mui 270 (268671x3dd8b6).png

16 Juni lalu saya ditawari untuk ikut terlibat menjadi salah satu fasilitator di acara live streaming Parenting Ramadan: “Menjadi Orang Tua Cerdas dalam Menghindarkan Anak dari Kecanduan Games dan Pornografi di Internet Menggunakan Ponsel Cerdas” bersama NGO Save the Children (STC), Cozora, dan beberapa teman Fasilkom UI. Acara ini dilaksanakan di SDN Marunda 02, dan 12 sekolah dampingan STC akan live streaming melalui Cozora. Tugas saya? Sesimpel memastikan acara live streaming berlangsung dengan lancar bersama kurang lebih 11 fasilitator lainnya (satu sekolah, satu fasilitator).

IMG-20160616-WA0008

Sebelumnya saya sempat tidak nyaman karena saya adalah satu-satunya orang dari luar (ibarat kata outsider, bukan anak Fasilkom) hehe. Di samping mendambah pengalaman baru dan teman baru, motivasi saya untuk ikut kegiatan ini adalah hal ini jauh lebih baik dan membuat saya berguna dibandingkan jika saya hanya berdiam diri di kosan atau di rumah hahaha.

Sebagai seorang introvert tulen, jaman dahulu saya memang mengalami kesulitan jika berada di tempat yang benar-benar baru, saya adalah seorang yang pendiam. Setidaknya sampai sebelum saya mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia (K2N UI). Saya mengakui (bahkan dibanyak tempat saya sering bercerita) bahwa K2N adalah pengalaman hidup yang mengubah diri saya dan membuat saya banyak belajar. Ditempatkan di tempat yang asing selama 33 hari, bertemu orang baru, berinteraksi dengan orang yang sebelumnya tidak saya kenal sama sekali. Namun, biar bagaimanapun saya diharuskan berhubungan baik dengan mereka semua dan mampu mengindahkan petuah-petuah kearifan lokal tanpa membuat saya menjadi kehilangan jati diri dan nilai-nilai baik yang sebelumnya sudah tertanam di diri saya. Saya belajar untuk lebih cepat beradaptasi dan membuka diri.

Sekarang, saya menjadi lebih mudah beradaptasi dan membuka diri. Setidaknya, lebih mudah untuk blending in. Jika berada di tengah-tengah interaksi bersama orang yang lebih pendiam dari saya, maka saya akan sedikit lebih mengambil peran aktif dan membuka topik pembicaraan, jika saya berada di tengah-tengah interaksi bersama orang yang begitu aktif, maka saya akan mengambil peran pasif dan menjadi sedikit pendiam. Makin hari sikap-sikap INFJ makin nampak di diri saya.

INFJ personality type is very rare, making up less than one percent of the population, but they nonetheless leave their mark on the world. As members of the Diplomat Role group, INFJs have an inborn sense of idealism and morality, but what sets them apart is that they are not idle dreamers, but people capable of taking concrete steps to realize their goals and make a lasting positive impact.

INFJs are one of the hardest of all types to type. The reason for this is because of their ability to blend in with the environment they are in at any given time. INFJs have a tendency to balance out interactions such that if the person they are talking to is too active, they will take a passive role. If the person they are talking to is too passive, they will take the active role. Like the tides they constantly shift.

INFJ Personality

Kembali ke kegiatan volunteering, 1 hari sebelum acara berlangsung atau tanggal 17 Juni, kami semua melakukan testing menggunakan Cozora, mendengar pengumuman teknis acara, dan memastikan bahwa setiap komponen laptop masing-masing yang akan digunakan berada dalam kondisi prima. Saat testing, ketika melakukan video call, beberapa mas-mas (pihak cozora dan anak Fasilkom) yang juga sedang melakukan video call tampak kaget melihat muka saya. Saya sempat berpikir, “duh mereka kok gitu sih? apa ketauan kalo aku belum mandi. tapi kan aku udah cuci muka dan pakai baby cream huhu mukaku juga ga kumel.” hahaha either saya terlalu kumal atau saya terlalu cantik meskipun belum mandi #plak.

Kemudian, esoknya saya berkumpul di stasiun UI. Di sana ada Rauhil dan Meisza (Mei yang ngajak saya untuk gabung di kegiatan ini). Sampai di Stasiun Manggarai dan basecamp STC Alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan meskipun semua orang yang saya temui adalah orang yang baru saya kenal, kecuali Mei. Di mobil menuju SD Kampung Sawah saya berbincang bersama teman-teman, topik obrolan yang saya pilih adalah topik yang pasti dialami generasi 90an semasa SD sehingga tidak sulit untuk mendapatkan mood yang bagus.

Sesampainya di lokasi ternyata SD Kampung Sawah tempat saya bertugas masih kosong dan tidak ada siapapun (kemudian terjadilah drama, sedikit emosi, dll. tapi Alhamdulillah dapat teratasi). Saat pertama kali mendapati sekolah saya kosong, saya berbincang bersama Falah yang SDnya juga berada di Kampung Sawah dan hanya berjarak kurang lebih 30 meter. Alhasil saya mondar mandir dari SD saya ke SDnya Falah. Iya, melelahkan hahaha. Tapi banyak hal lucu yang terjadi sepanjang saya bolak balik setiap 15 menit sekali itu. Mulai dari banjir-banjiran, lupa jalan (maklum kemampuan spasial saya rendah), sampai freeze karena takut diseruduk kambing hahaha. Kemudian saya kembali ke SD Kampung Sawah, menyiapkan acara, mengatasi masalah, dan Alhamdulillah acara tetap berlangsung.

Berikut isi singkat materi yang diberikan dan dapat dilihat di twitter STC:

Berdasar penelitian, anak laki-laki dan mereka yang tinggal di kota besar lebih mudah mengalami kecanduan pornografi dan games. Rasa ingin tahu anak harus dapat difasilitasi secara sehat oleh orangtua sehingga mereka tidak mencari tahu dari sumber yang salah. Anak yang kecanduan pornografi sering merasa bingung karena mereka ingin berhenti tapi kesulitan. Hukuman membuat anak merasa malu dan menjauh. Terima kondisi anak saat ini dan bantu mereka untuk merasa aman dengan kehadiran kita sehingga kita dapat membantunya. Tentang kecanduan game online, ingat usia anak adalah usia bermain. Orangtua belajarlah membuat aturan main bersama anak. Pendidikan seksual pada anak sesuai tahapannya menjadi penting untuk dikomunikasikan orangtua kepada anak untuk mengurangi bahaya pornografi. Dampingi penggunaan smartphone oleh anak, filter konten yang tidak sesuai untuk anak menggunakan software khusus.

Saya bersyukur dapat bertemu dengan teman-teman baru yang baik hatinya. Terima kasih untuk drama dan chaos satu harinya haha. Kemudian di grup semua orang bahagia dan berharap supaya silaturrahim diantara kami tetap terjalin. Saya senang. Meskipun bagi seorang introvert tulen berinteraksi dengan orang lain itu menguras energi, tapi hal tersebut bukan jadi penghalang untuk saya. Bahagia karena mampu membuat diri ini bermanfaat bagi orang lain jauh lebih penting. Ada rasa syukur di sana. Saya bersyukur karena saya masih diberi kesempatan untuk membantu orang lain.

Tambahan:

Kajian singkat tentang bahaya pornografi oleh Ustadz Nouman Ali Khan bisa dilihat di sini.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s